-->

Senin, 17 Juni 2019


UTAMAPOST - Gempa bumi dengan Magnitudo 5,3 terjadi di Pasaman Barat. Gempa ini tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

“Tidak berpotensi tsunami,” demikian keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat akun Twitter-nya, @infoBMKG, Senin (17/6).
Gempa terjadi pada pukul 18.04. Lokasi gempa berada di koordinat 0,36 Lintang Selatan (LS) dan 99,00 Bujur Timur (BT).

Pusat gempa ada di 105 km arah barat daya dari Pasaman Barat, Pusat gempa ada di kedalaman 23 km. Di Padang, getaran gempa terasa beberapa detik. Namun tidak ada kepanikan warga saat gempa terjadi.

Berhamburan
Sebagian warga Lubuk Basung dan sekitarnya berhamburan keluar rumah karena merasakan kuatnya getaran gempa.

Meski hanya berlangsung beberapa detik, warga ke luar rumah dan tidak terlalu panik dengan kejadian menimpa mereka.

Lilik, warga Lubuk Basung ikut terkejut dan merasakan kuatnya geta ran gempa saat dalam rumah saat kejadian.

“Sesaat setelah getaran gempa, saya langsung keluar rumah dan segera berlindung di lokasi yang dirasakan aman, “katanya.

Sekaitan dengan hal itu, Kepala BPBD Agam Muhammad Lutfi didampingi stafnya Wahyu mengajak warga agar tetap waspada sewaktu waktu jika terjadi gempa susulan. 

Dua kali
BMKG mencatat dua kali gempa tektonik di wilayah Nusa Tenggara Timur, kemarin.  “Terjadinya dua gempa ini memang perlu kita waspadai,” kata Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono  yang dilansir tempo.co.

Dari pantauan BMKG, khusus wilayah selatan dan barat daya Sumba lebih dari satu
tahun terakhir menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas seis mik yang intensif. Sementara riwayat lainnya terkait dengan kejadian gempa besar yang diikuti tsunami.

Gempa besar The Great Sumba berkekuatan magnitudo 8,3 pernah terjadi pada 19 Agustus 1977. Sumber gempa ini mampu memicu gempa besar hingga membangkitkan tsunami dan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa lebih dari 198 orang di selatan Sumbawa.

Sejak Senin dini hari hingga siang kemarin, wilayah Nusa Tenggara Timur dua kali terguncang gempa tektonik. Gempa pertama mengguncang wilayah Sumba Timur tepat pukul 03.13.54 dengan kekuatan magnitude 5,0.

Titik sumber atau episenter gempa terletak di laut pada jarak 96 kilometer arah selatan Waingapu, Sumba Timur, dengan kedalaman 28 kilometer. Gempa ini, menurut Daryono, terjadi akibat adanya deformasi batuan pada kerak samudra Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Sumba.

Di zona tekukan lempeng ini terjadi peregangan sebelum menunjam ke bawah Sumba. Gaya tarikan (ekstensional) ini memicu terjadinya patahan dengan pergerakan turun (normal fault) hingga memicu gempa.

Zona penunjaman selatan NTT, ujar Daryono, merupakan kawasan penunjaman (subduksi) lempeng yang berusia tua dan sudah mengalami roll back (gulung balik). “Maka zona gempa di luar jalur subduksi atau outer rise ini banyak ditemukan peristiwa gempa-gempa sesar dengan pergerakan turun,” katanya.

Meskipun gempa Sumba Timur pagi tadi tidak berpotensi tsunami tetapi dampak guncangan dalam skala intensitas III MMI sempat mengejutkan masyarakat Sumba Timur hingga beberapa warga terbangun dari tidur nya.

Sekitar sembilan jam kemudian tepatnya pukul 12.43.31, wilayah Laut Sawu dan sekitarnya juga diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,4. Episenter terletak di laut pada jarak 68 km arah selatan Kota Larantuka, Flores Timur pada kedalaman 118 km.

Gempa ini terjadi dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah bawah basemen busur gunungapi Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda) tepat di bawah Cekungan Sawu.

Dampak gempa Laut Sawu ini me nyebabkan sebagian besar wilayah NTT mengalami guncangan, seperti daerah Ende dengan skala intensitas III-IV MMI, Waingapu, Larantuka, Alor II-III MMI dan Kupang, Rote II MMI. Beberapa warga sempat berhamburan lari keluar rumah akibat terkejut karena guncangan kuat yang terjadi secara tiba-tiba. (*)

Comments 0

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *