Feature : “ Papa… Papa.... suara itupun , Kembalikan Memori pasien Covid - 19
![]() |
| Kepala Badan Pemberdayaan Masyaarakat Sumbar Drs. Syafrizal Ketika membagikan bantuan Pemerintah ke Masyarakgt di berbagai daerah di Sumbar. |
Tubuh kokoh mantan pebulutangkis andal yang sekarang menjadi Kepala Badan Pemberdayaan Sumbar Drs.Syafrizal (57 th) yang akrab di panggil ucok, tergolek lemah saat dijenguk dirumahnya jalan Ampang kota Padang.
Dijenguk Utama post dikediamannya siang itu, Syafrizal terlihat masih dalam kondisi lemah. Namun, semangat untuk aktif dan berkomunikasi terpancar dari wajah pria yang humanis ini. “ Inilah kondisi saya sekarang, Alhamdulillah sudah baikan.ujar Syafrizal.
Syafrizal bercerita tentang kondisinya sekarang dan apa yang menjadi pemicu pulihnya kembali memorinya yang hilang saat dia dalam kondisi kritis positif Covid-19.
Ketika memasuki hari ketiga saat dalam isolasi di Rumah sakit, siang itu dibulan Oktober 2020. Tiba-tiba Hp saya berdering. Hal ini sebelumnya sudah sering saya dengar dan hampir tiap hari berdering. Tapi ketika orang yang menelpon saya menyapa , jujur saja saya tak bisa tahu siapa yang menelpon itu.
Suara siapa di balik HP yang mengontak saya, saya benar-benar tak tahu sama sekali. Saya benar-benar kehilangan memori ingatan saya. “ Saya benar-benar frustrasi, saya tak tahu apa yang akan saya lakukan lagi. Saya coba lakukan shalat, saya tak ingat lagi apa urutan bacaan yang saya bacakan. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa dalam kehilangan memori itu. Jadi yang hilang itu bukan hanya penciuman saja, ketika sakit kita berlanjut akibat Virus Covid-19 maka memori kita juga hilang dibuatnya. Saya betul-betul pasrah,”kata Syafrizal,ketika menceritakan gejala dan kondisi yang dialaminya saat di isolasi di Rumah Sakit setelah dinyatakan positif Covid-119.
Selanjutnya, saya angkatlah kembali HP yang berdering itu, dan saya dekatkan ke telinga saya. Papa… ini Romi Pa.Romi sudah sampai di Bandara.Papa bagaimana keadaan Papa.
Allahu Akbar…. panggilan papa dari anak laki-laki saya itu, seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh pembuluh darah saya. Seketika itu juga saya seperti bangkit dari tidur panjang penuh kehampaan. “Saya tersentak dan sepertinya memori ingatan saya dikembalikan Allah.
“ Romi…. Ini Romi anak papa, Papa sudah baikan nak, cepatlah kemari, Papa rindu kamu,”Jawab saya lirih dengan air mata yang berlinang karena suka cita. Saya gembira karena bisa lagi ingat secara perlahan semuanya.
Allah betul-betul melihatkan kuasanya. Segala macam obat dan proses pengobatantelah saya lalui dalam masa isolasi. Tapi itulah pengelaman spiritual yang saya alami. Sepatah kata “ Papa” dari sang buah hati telah mengembalikan memori saya.
Sapaan Papa dari sang anak membuat saya serasa bangkit dari tidur panjang saya. Dan saya kembali punya kekuatan dan semangat untuk sehat. Setengah jam setelah itu Romi sang buah hati saya yang bekerja sebagai notaris di Jakarta telah berdiri di hadapan saya.
“Rasanya darah dalam tubuh saya mengalir dengan lancar dan saya seperti mempunyai semangat baru.Saya ingin memperlihatkan kepada buahhati saya bahwa Papanya sudah sehat.
Jadi menurut Syafrizal Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sumbar ini, dukungan dari keluarga dekat dan semangat yang diberikan teman-teman akan menjadi pemicu penderita Covid -19 untuk kembali bisa menata kondisi yang terkena virus Covid
.” Ini pengelaman spiritual dan rohani yang sangat luar biasa, saya yang merasakan dan mengalaminya. Jadi, kepada keluarga dan masyarakat, yang terbaik diberikan kepada penderita Covid-19 adalah berikan semangat hidup serta doa untuk penderita Covid. Yakinkan mereka bahwa mereka bisa mengatasi dan melalui sakit akibat virus Covid-19,Kata Syafrizal.
Sementara ketika ditanyakan apa yang menjadi penyebab sampai dirinya terimbas covid-19 dengan tegas kepala Badan yang paling sibuk di Sumbar ini menyatakan bahwa” Kelelahan dan stress adalah pemicu utama dari tertularnya Virus Covid-19 yang dideritanya.
“ Kalau secara pribadi dan yang saya alami, akhirnya saya menyadari bahwa masalah kelelahan dan stress menjadi pemicu utama bagi diri saya,”katanya lagi.
Ditambahkan Syafrizal, bahwa lima hari sebelum dirinya dinyatakan positif Covid-19. Dirinya memang mengikuti semua jadwal acara yang disusun untuk posisinya sebagai kepala badan Pemberdayaan Masyarakat Sumbar.
“ Saya lima hari berturut-turut berkeliling daerah, seperti ke Bukittinggi, Pariaman, Pesisir selatan dan Pasaman tanpa henti. Begitu pula mengikuti berbagai acara sosial yang diundang oleh warga sekitar rumah dan teman-teman organisasi. Saya tak ingin mengecewakan mereka yang harap dengan kedatangan saya. Saya ingin memberikan yang terbaik kepada masyarakat dan teman teman saya .Akibatnya saya lupa dan lalai dengan kondisi saya,aku Syafrizal.
“Jadi apapun profesi kita dan sepadat apapun acara kita, kita harus bisa menjaga dan mengukur kemampuan kita. Faktor usia harus menjadi pegangan kita. Dan dalam beraktifitas kita harus selalu ingat dan bermohon kepada Allah, jelas Syafrizal.Ingat kelelahan dan stres jadi pemicu utama kita mudah terjangkit Virus Covid-19. Kita harus menjaga kondisi tubuh kita dalam keadaan bugar dan jangan pernah lupa beribadah dengan tenang dan khusuk.
“Sekali lagi, saya mohon kita jangan sampai kelelahan dalam beraktifitas dan kita jangan sampai stress karena mengikuti berbagai jadwal kegiatan. Kontrol diri dan selalu berzikir kepada Allah akan membuat kita dalam kondisi fisik dan mental yang baik. Kalau kondisi kita sudah terkontrol maka insya Allah kita terhindar dari Virus Covid 19. Namun Doa dari anak dan Istri serta teman-teman sekitar kita bisa jadi obat mujarab bagi kesembuhan kita,katanya lagi.


Comments 0
EmoticonEmoticon