Tenggelamku, Mengapung
Mobil mewah dan rumah bertingkat adalah keinginan semua orang. Namun, tidak untuk ku. Bagaimana tidak, untuk apa ku miliki semuanya. Tapi, kasih sayang orang tua tidak pernah kudapatkan. Hidupku sendiri. Tanpa kakak dan adik seorang pun. Orang tuaku sibuk dengan bisnisnya masing masing. Hingga mereka lupa, kalau ada aku yang sangat ingin dipeluk oleh mereka. Akhirnya, ku biarkan hidupku begitu saja. Menyendiri, merenung dan hampa.
Lonceng sekolahku berbunyi. Seolah mengusir untuk menyuruhku pergi. Saat sampai di rumah, pemandangan yang tak seperti biasanya terlihat olehku. Dua mobil mewah, berdiri di hadapanku. Yaaa, itu milik orang tua ku. Belum sempat masuk. Aku mendengar teriakan mama menahan kesakitan. Braaaak. Suara pintu terbuka dengan keras. Papa yang tidak mengetahui bahwa aku sedang menguping, tertunduk malu dan langsung pergi. Aku langsung menghampiri mama. Namun kelihatannya mama tak membutuhkan aku untuk berada di dekatnya. Hatiku hancur seketika. Niat baikku ditolak mentah mentah oleh mama. Rutinitas ku kembali lagi. Menangis setiap harinya. Namun, kali ini beda. Tangisanku lebih lepas dan tak henti hentinya. Aku bingung dengan semua ini, kenapa aku tak pernah dianggap?. Apakah aku bukan anak mereka?. Ntahlah, aku terdiam dan menampar diriku sendiri. Mencoba memahami keadaan dan berkata dalam hati "sudahlah Santi, ini hanya kebetulan". Air mataku terus mengalir dengan sendirinya hingga mataku tertutup sampai esok hari.
Alarm yang seolah olah berteriak membangun kan ku, tak ku hiraukan. Hingga pukul sembilan menghampiri, barulah aku sadar.
"Sekolah? Ya sekolah", ucapku dalam hati. Ya ampuuuun aku terlambat.
Akhirnya ku biarkan diriku libur untuk sehari ini. Kakiku melangkah menyusuri tangga. Ku lihat orang tuaku, berbicara serius. Tak ada niatku untuk menghampiri mereka. Karena aku sadar bahwa aku tak pernah dianggap di rumah ini. Hanya barang cantik dan cincin nan bak permata yang mereka tahu.
"Santiiii" teriak papa memanggil ku.
Hatiku berdebar seketika. Senang dah bahagia, itulah yang kurasakan sekarang. Dengan cepat kakiku berlari kecil mendekati mama dan papa. Setelah duduk disamping papa. Papa langsung bicara dengan suara yang lembut bak kapas bila disentuh.
"Santi, kamu sudah beranjak dewasa. Cantik dan anggun rupamu nak. Satu bulan lagi kamu akan tamat SMA. Papa pikir kamu tidak perlu kuliah nak. Karena papa dan mama telah menjodohkan mu dengan anak pengusaha sukses yang sangat kaya" ujar papa tanpa merasa bersalah.
Jantungku tiba tiba berhenti. Dan tidak ingin melanjutkan debarannya. Mataku tiba tiba meneteskan air mata. Tanganku pun pucat seolah tenagaku tiba tiba terkuras sangat banyak. Aku tak mau menatap papa. Dan berusaha menatap mama bahwa yang dikatakan papa itu hanyalah lelucon. Namun apa yang dikatakan mama malah membuatku hancur.
"Lakukan saja apa yang dikatakan papamu, hidupmu tak akan bahagia bila tak bergelimang harta" ujar mama sedikit membentak.
Aku tak peduli dengan apa yang akan dikatakan mama lagi. Aku berlari ke kamar sambil berkata " aku tak mau". Ku kemas barangku dan pergi ke tempat sahabatku. Tapi apa yang terjadi? Tia, yang selama ini ku anggap sahabat ku jijik melihat ku. Belum sempat ku menceritakan tentang kejadian ku dia malah mengusir ku. Aku sadar bahwa yang teman teman ku mau hanyalah uang dariku bukan kehadiran ku.
Hatiku kembali remuk. Bimbang dan bingung. Tak tahu mau kemana. Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke rumah. Aku pasrah dengan keputusan orang tuaku, yang akan menikahi ku bulan depan. Tepatnya setelah aku tamat SMA.
Saat sampai di rumah. Tak ada kulihat satupun orang. Hanya hiasan rumah yang harganya setara dengan berlian. Yang jelas, barang itu lebih berharga dari pada diriku. Akupun berbaring di tempat tidur. Dengan air mata yang mengalir begitu deras. Tiba tiba aku terbangun. Setelah mendengar barang yang jatuh di bawah. Belum lagi suara papa yang sangat mengejutkanku "Dasar pelacur ! Istri macam apa kamu? Hanya beberapa hari kita hidup susah seperti ini, kamu sudah tidur dengan suami orang. Jika kau mau uang, jual aja isi rumah ini. Biar kau puas dengan semuanya", ujar papa yang membentak mama Sangat keras. Dengan tak mau kalah mama membalas perkataan papa "aku sudah biasa hidup kaya. Tak Sudi jika aku akan hidup miskin. Bahkan, untuk sehari pun aku tak Sudi. Jika kau tak mau, ceraikan saja aku" mama pergi lalu masuk ke kamar nya.
Akupun yang menyaksikan itu, hanya bisa menangis. Saat papa melihat ku, ia pun berteriak kepada ku "lihat kelakuan ibumu. Jika bukan karena mu, aku tak akan menikahi ibumu. Dasar anak haram".
Jiwa dan badankupun seolah terpisah. Sakitnya bukan seperti luka. Tapi seperti cambuk yang menghantam tubuhku berkali kali. Akupun tak tahu kesalahanku. Aku hanya dilahirkan dan dibesarkan oleh mereka. Akupun tak berhak untuk memilih saat dalam kandungan. Kepada siapa aku akan dibesarkan. Aku hanya berharap, kebahagiaan akan menghampiri ku walaupun hanya satu hari. apapun akan kulakukan itu. Akhirnya ku putuskan untuk mencari kedamaian dalam keluarga ku. Untung saja hari ini, adalah hari Sabtu. Esok hari akan ku ubah keluarga ini menjadi lebih baik. Semampuku. Pasti. Aku pasti bisa.
Minggu yang cerah menghampiri ku. Seperti janjiku kemarin, aku harus menyatukan keluargaku. Pagi pagi aku buatkan nasi goreng buat mereka. Berharap niat baikku diterima oleh mereka. Sambil menunggu papa dan mama aku teringat sesuatu bahwa esok adalah ulang tahun pernikahan papa dan mama.
"Akan ku buat sebuah kejutan untuk Papa dan mama. Sebuah hiasan dinding dengan tulisan Happy anniversary serta kado kecil. Untuk biayanya akan ku buka celengan ku . Yang dulunya ku buat untuk kuliah ku. Namun, aku harus menghapus mimpi ku untuk kuliah. Karena kenyataannya aku akan dinikahkan setelah tamat SMA" percakapan ku dengan diri ku sendiri sempat meneteskan air mata. Dan tak terasa pula terdengar suara sepasang sendal yang sedang melangkah mendekati ku. Yaaaa itu papa dan mama. Ku hapus air mataku dan kembali tersenyum kepada mereka.
Sayang sungguh sayang, niat baikku tak dihiraukan oleh mereka.
"Santi, kamu segera dandan yang cantik. Kita sarapannya di rumah calon suami kamu saja. Cepat mereka menunggu kita", papa berbicara tanpa memperhatikan raut wajahku seditpun. Tak menghiraukan apa yang aku hidangkan.
Akhirnya, aku pergi ke kamar mandi dan bergegas membersihkan diriku. Akupun berdandan secantik mungkin. Yaa sesuai kata papa tadi, "berdandan secantik mungkin". Jujur, aku orang yang sangat biasa. Untuk berdandan ini adalah hal pertama bagiku. Tapi tak apalah, demi kebahagiaan keluarga ku, aku ikhlas.
Kedua orang tuaku telah selesai berdandan dengan rapi. Begitu juga denganku. Tak ada sedikitpun pun beban yang ku rasakan. Malahan aku merasa bahagia, karena orang tua ku juga berlatih tersenyum kepadaku. Yaa walaupun Hanya untuk di depan calon mertua ku.
Saat mobil berhenti dan memasuki sebuah rumah. Hatiku deg-degan tak karuan. Perasaan ku campur aduk. Namun kami telah disambut oleh keluarga calon mertua ku. Aku bingung sejenak.
"Mana calon suamiku? Yang terlihat dari kaca mobil hanya ada pria dan wanita yang berusia sekitar 55 tahunan serta seorang pria yang jika ku tebak telah berusia 30an. Apakah dia jodohku? Aku merasa tidak suka jika dijodohkan oleh nya. Ya jelas saja usia kami berbeda 15 tahunan. Inginku teriak untuk melepaskan semua ini . Namun aku ingat kembali. Demi kebahagiaan orang tua ku, aku ikhlas. Akhirnya papa membuka pintu dan kamipun dipersilahkan untuk masuk. Setelah lama lama berbincang, kamipun diperkenalkan. Dengan sedikit senyuman, aku mencoba untuk santai. Walaupun hatiku ingin menolaknya. Calon suami ku selalu memandangi ku dengan tatapan yang sedikit nakal. Aku merasa geli . Dan kubuang pandangan ku ke bawah. Tiba tiba ia berkata" ma, pa tanpa mengurangi rasa hormat, bolehkah Wahyu membawa Santi untuk jalan jalan sebentar? " Katanya dengan sedikit malu.
Aku tahu bahwa ia adalah pria nakal. Pasti tersimpan niat buruk olehnya. Jantungku berdetak dengan sangat cepat. Belum sempat ku menjawab, mama sudah berkata" oh silakan nak, semoga jadi lebih akrab"
Oh tuhan, kepalaku rasa ingin pecah. Aku tak ingin hal aneh terjadi padaku. Tapi apa boleh buat, aku tak kuasa untuk menolaknya. Mau tak mau, ku langkahkan kakiku dari luar rumah yang membuat ku takuuut itu. Berjalan beriringan dengannya membuat ku makin ketakutan.
Saat dalam mobil, tangan Wahyu meremas tanganku. Tanpa merasa bersalah, ia malah mengajakku ke tepi laut. Yang ku tahu, tepi laut itu Terkenal sepi. Jarang ada orang yang ingin kesana. Aku menolak . Namun, mobil Wahyu semakin kencang. Saat sampai di tepi laut, aku hanya melihat orang yang berpasang pasangan. Anak muda tepatnya. Mereka seperti bebas melakukan hal yang tak pantas. "Aduh" teriakku saat Wahyu memeluk pinggangku dengan saat erat. Aku berusaha melepaskan nya. Tapi aku kalah kuat. Wahyu mengajakku ke sebuah pondok kecil yang ada di tepi laut. Aku sudah membayangkan hal buruk akan terjadi. Akhirnya, ku berlari sekuat tenaga. Tapi tak ada tempat pelarian. Saat ku teriak tak ada seorangpun yang mendengarkan ku. Tempat ini sepi. Seperti tempat mesum kalangan tertentu tepatnya. Aku tak tahu berlari kemana. Di depan ku hanya ada laut. Hanya itu jalan satu satunya. Akhirnya ku ikhlaskan diriku untuk pergi. Dengan satu niat, yang tak diinginkan oleh orang lain. Ku ikhlaskan badan ini Tenggelam lalu mengapung. Berharap orangtuaku akan menemukan ku . Aku hanya ingin tahu, bagaimana ekspresi mereka saat jumpa dengan ku. Tenggelamku, mengapung. Hanya itu Tuhan. Hanya itu yang kuingin.
Beberapa jam kemudian...
Mataku terbuka. Dengan pemandangan yang aneh. Aku berada di ruang kecil dengan seorang dokter beserta orang tuaku. Papa dan mamaku menangis melihat ku. Namun aku berusaha tersenyum kepada mereka sambil berkata " Iloveyou pa, iloveyou ma ". Dengan rasa cinta dan air mata yang menetes di pipi mereka. Mereka tersenyum dan membalas nya" iloveyou too sayang" Itulah kata terakhir yang ku ucapkan. Dan itu pulalah kata kata yang pertama dan terakhir yang pernah ku dengar dari orang tuaku. "Aaaaaahg" teriakku dengan sangat keras setelah mendengar kata cinta dari mereka. Tiba tiba badanku melemas. Tak sanggup untuk bergerak untuk sedikit pun. Tak terasa Aku sudah tertidur dengan sangat nyenyak dan mungkin tak akan terbangun lagi. Aku bahagia karena orangtuaku membalas ucapan cintaku. Walaupun pada akhirnya, aku tak akan pernah mendengarkannya lagi.


Comments 0
EmoticonEmoticon